Ilmi, Muhammad Nurul (2024) Studi Komparasi Penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Zuhaili Terhadap Qs. An-Nisa’ Ayat 3 Dan 129. Undergraduate thesis, IAIN KUDUS.
![]() |
Text
1. COVER.pdf Download (1MB) |
![]() |
Text
2. ABSTRAK.pdf Download (282kB) |
![]() |
Text
3. DAFTAR ISI.pdf Download (257kB) |
![]() |
Text
4. BAB I.pdf Download (348kB) |
![]() |
Text
5. BAB II.pdf Download (519kB) |
![]() |
Text
6. BAB III.pdf Download (287kB) |
![]() |
Text
7. BAB IV.pdf Download (495kB) |
![]() |
Text
8. BAB V.pdf Download (247kB) |
![]() |
Text
9. DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (275kB) |
Abstract
Penelitian ini berawal dari penemuan informasi terkait kesenjangan penelitian dalam penafsiran tentang QS. an-Nisa’ ayat 3 dan 129. Dalam penelitian ini penulis menguak penafsiran dari Buya Hamka dan Wahbah Zuhaili dan mengidentifikasi bagaimana penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Zuhaili terhadap QS. an-Nisa’ ayat 3 dan 129, yang kemudian menganalisis dari kedua penafsiran tersebut. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan termasuk dalam kategori penelitian kualitatif. Adapun analisis dalam penelitian ini menggunakan tafsir komparatif (tafsir perbandingan). Hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis mendapat 3 poin penting dalam penelitian ini. Adapun poin tersebut, di antaranya Pertama, penafsiran Buya Hamka terhadap QS. an-Nisa’ [4] ayat 3 dan 129 menekankan pada perlindungan anak yatim. Adapun konteks perlindungan anak yatim diperkenankan, untuk menikahi ibunya dengan memberikan mahar sebagaimana mahar yang diberikan kepada perempuan lain pada umumnya. Kedua, penafsiran Wahbah Zuhaili terhadap QS. an-Nisa’ [4]: 3 dan 129 adalah berkaitan dengan perlindungan anak yatim. Adapun kebolehan poligami hanya dalam kondisi dan situasi tertentu, atau dalam kondisi darurat yang kemaslahatannya itu kembali kepada anak yatim tersebut. Ketiga analisis komparatif penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Zuhaili terhadap QS. an-Nisa’ [4]: 3 dan 129, yakni Pertama, Buya Hamka menempatkan adil dalam persoalan hati sebagai tuntutan dari seorang suami kepada istrinya. Sedangkan, Wahbah Zuhaili justru sebaliknya, adil dalam persoalan hati bukan termasuk tuntutan seorang suami kepada istrinya. Hal tersebut karena kasih sayang serta kecenderungan hati bukanlah wewenang manusia sehingga persoalan tersebut di luar batas kemampuan manusia. Kedua, Buya Hamka dalam penafsirannya menggunakan metode tahlili. Ia menafsirkan ayat-ayat dalam al-Qur’an dari berbagai sisi dengan menjabarkan ayat demi ayat sesuai dengan urutan susunan ayat yang terdapat dalam al-Qur’an melalui pembahasan kosakata asbabun nuzul, munasabah ayat, serta menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat sesuai dengan kecenderungan dan kepakaran mufassir. Sedangkan, Wahbah Zuhaili dalam memahami sebuah teks, ia tidak hanya menggunakan satu metode, akan tetapi beberapa metode ia gunakan, seperti tafsir muqarin, tafsir tahlili, dan tafsir maudhu’i. Selain itu, metode yang sering digunakannya dalam menafsirkan, yakni dengan mendeskripsikan dan menguraikan makna, kemudian dilakukan analisis di dalamnya.
Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Contributors: |
|
||||||
Uncontrolled Keywords: | Penafsiran, Komparatif, QS. an-Nisa’ | ||||||
Subjects: | Al-Qur`an dan Ilmu yang berkaitan > Kumpulan Ayat-ayat & Surat-Surat Tertentu | ||||||
Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Quran Tafsir | ||||||
Depositing User: | Perpustakaan IAIN Kudus | ||||||
Date Deposited: | 26 Mar 2025 06:36 | ||||||
Last Modified: | 26 Mar 2025 06:36 | ||||||
URI: | http://repository.iainkudus.ac.id/id/eprint/14103 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |