Kearifan Lokal Prasah Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Sidigede Jepara Dalam Meningkatkan Sakinah Mawaddah Warahmah

Andriani, Devi (2019) Kearifan Lokal Prasah Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Sidigede Jepara Dalam Meningkatkan Sakinah Mawaddah Warahmah. Undergraduate thesis, IAIN KUDUS.

[img] Text
1. COVER.pdf

Download (2MB)
[img] Text
2. ABSTRAK.pdf

Download (280kB)
[img] Text
3. DAFTAR ISI.pdf

Download (371kB)
[img] Text
4. BAB I.pdf

Download (633kB)
[img] Text
5. BAB II.pdf

Download (936kB)
[img] Text
6. BAB III.pdf

Download (502kB)
[img] Text
7. BAB IV.pdf

Download (743kB)
[img] Text
8. BAB V.pdf

Download (372kB)
[img] Text
9. DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (455kB)

Abstract

Prasah adalah tradisi pemberian maskawin berupa seekor kerbau dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Prasah ini merupakan ciri khas budaya masyarakat Sidigede. Prasah yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sidigede memberi pengaruh dalam menciptakan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Penelitian ini bertujuan : 1) Untuk mengetahui sejarah Prasah sebagai identitas budaya masyarakat Sidigede. 2) Untuk mengetahui tanggapan masyarakat Sidigede dalam memaknai Prasah sebagai kearifan lokal. 3) Untuk mengetahui peran kearifan lokal Prasah dalam meningkatkan sakinah mawaddah warahmah. Dengan teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan berbentuk deskripsi kualitatif. Dari hasil penelitian sebagai berikut: 1) Prasah muncul dan berkembang di desa Sidigede pada tahun 1900an. Prasah pertama kali dikenalkan oleh mbah Simin. Pemikirannya tentang Prasah ini bermula ketika ia melihat seorang buruh ternak yang sedang mengambil rumput. Lalu ia berfikir untuk memberikan seekor kerbau saat menikahi putri buruh ternak tersebut dengan harapan kerbau ini dapat digunakan untuk membantu mencukupi kebutuhan ekonomi sekaligus meramaikan acara pernikahan. Selain itu, Prasah juga merupakan simbol seorang pria (mempelai pria) yang gagah, berani, dan bertanggung jawab. 2) Tanggapan yang diberikan masyarakat terkait dengan tradisi Prasah meliputi berbagai aspek. Secara agama, melakukan Prasah sama dengan menghambur-hamburkan uang. Apabila dipandang secara budaya, Prasah boleh saja dilakukan. Bahkan harus dilestarikan. Sedangkan secara Psikologis, pelaksanaan Prasah mendatangkan kesenangan tersendiri bagi mempelai wanita serta menjadi hiburan bagi masyarakat setempat maupun sekitar. Namun akan berbeda jika dipandang secara ekonomi. Para pedagang dapat menambah penghasilan dengan cara berdagang pada acara tersebut. 3) Dalam kehidupan rumah tangga, Prasah memberikan dukungan pada segi finansial. Hal ini yang menjadikan rumah tangga seseorang bisa dikatakan lebih harmonis.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Prasah, Identitas Budaya, Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah.
Subjects: Aqaid dan Ilmu Kalam > Aqidah menurut aliran-aliran atau sekte-sekte dalam Islam
Divisions: Ushuluddin > Akidah dan Filsafat Islam
Depositing User: Perpustakaan STAIN Kudus
Date Deposited: 05 Jan 2021 02:26
Last Modified: 05 Jan 2021 02:26
URI: http://repository.iainkudus.ac.id/id/eprint/3385

Actions (login required)

View Item View Item