Tradisi Sewu Sempol Sebagai Bentuk Birru Al-Walidain (Kajian Living Qur’an)

Rukanti, Rukanti (2024) Tradisi Sewu Sempol Sebagai Bentuk Birru Al-Walidain (Kajian Living Qur’an). Undergraduate thesis, IAIN Kudus.

[img] Text
01. COVER.pdf

Download (16MB)
[img] Text
02. ABSTRAK.pdf

Download (328kB)
[img] Text
03. DAFTAR ISI.pdf

Download (298kB)
[img] Text
04. BAB I.pdf

Download (385kB)
[img] Text
05. BAB II.pdf

Download (501kB)
[img] Text
06. BAB III.pdf

Download (357kB)
[img] Text
07. BAB IV.pdf

Download (2MB)
[img] Text
08. BAB V.pdf

Download (317kB)
[img] Text
09. DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (321kB)

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang dilakukan di Punden Makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku, objek penelitian ini adalah Tradisi Sewu Sempol. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yaitu untuk mengetahui realitas fenomena sosial di lapangan dan mengungkap sebuah makna dari tradisi Sewu Sempol di Desa Kandangmas Dukuh Masin. Penelitian ini menggunakan teori simbol oleh Clifford Geertz yang difokuskan untuk analisis makna suatu simbol pada tradisi Sewu Sempol. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan verifikasi data. Hasil dari penelitian yakni makna setiap simbol yang terdapat pada tradisi Sewu Sempol, yang pertama simbol ingkung (ayam) pada bagian Sempol beserta pelengkap lainnya merupakan bentuk sedekah makanan dari masyarakat. Suatu wujud rasa hormat bagi masyarakat kepada leluhur desa atas tradisi dan merupakan wujud rasa syukur kepada Allah. Kemudian makna simbol dari doa tahlil, doa selamat, doa Rasul, dan doa Nabi Sulaiman yang dibaca saat prosesi yaitu sebagai wujud sedekah doa atau ngirem dongo menjelang bulan suci Ramadhan kepada leluhur dan orang tua yang sudah meninggal atau para ahli kubur. Meninjau dari pemaknaan tersebut, bahwa terdapat relevansi tradisi Sewu Sempol atau sedekah kubur dengan bentuk birru al-walidain, karena sikap birru al-walidain juga dapat ditunjukan sebagai baktinya seorang anak terhadap orang tua yang sudah meninggal. Bentuk birru al-walidain kepada orang tua yang sudah meninggal dapat diwujudkan dalam bentuk mengunjungi makam dengan mengirimkannya sebuah doa. Menaati perintah sekaligus berbuat baik kepada orang tua yang masih hidup ataupun sudah meninggal merupakan sebuah perintah untuk seorang anak terhadap kedua-Nya, karena firman Allah sudah jelas dalam Qs. Al-Isra: 23, Qs. An-Nisa: 36 dan Qs. Luqman: 15 yang mana terdapat sebuah anjuran untuk seluruh umat muslim wajib berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah berbuat baik kepada Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya. Adanya pelaksanaan tradisi Sewu Sempol ini sebagai bentuk hormat maupun rasa cinta kasih seorang anak kepada orang tua, dan leluhur yang sudah meninggal melalui sedekah doa. Jadi pelaksanaan ini dapat disebut resepsi hubungan manusia dengan kitab suci yang mewujudkan budaya dengan makna baru yaitu relevansi antara tradisi Sewu Sempol sebagai bentuk birru al-walidain

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Contributors:
ContributionContributorsEmail
Thesis advisorWaro, Mochamad Tholib KhoirilUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Tadisi Sewu Sempol, Birru Al-Walidain, Living Qur’an
Subjects: Sosial dan Budaya Islam
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Quran Tafsir
Depositing User: Perpustakaan IAIN Kudus
Date Deposited: 10 Mar 2025 06:47
Last Modified: 10 Mar 2025 06:47
URI: http://repository.iainkudus.ac.id/id/eprint/13890

Actions (login required)

View Item View Item